Utang-Utang Terima Kasih

Penghujung tahun 2024 telah datang. Sekarang pukul 02:30, 08 Desember. Aku bangun pukul sepuluh malam setelah lelap dalam suasana hujan. Membersihkan kamar, berkabar dengan sahabat karibku, Matul; juga berkabar dengan kekasihku yang sedang di TBY untuk kerja seninya.

Semua terasa lapang saat kamar telah kusapu. Aku mandi, salat isya, melanjutkan berkabar-kabar perihal apa saja dengan Matul, lalu membeli segelas capucino di warung kopi samping kos. Kedatanganku ke warung itu sempat mengejutkan sang barista. Aku berdiam di meja kasir tanpa memencet bel untuk beberapa saat. Hari sudah menjelang tengah malam, kedai kopi telah sepi.  Barista bercerita, "Ini rumah tua, Mbak! Bikin deg-degan."

Aku hanya nyegir. Kepalaku penuh dengan pikiran-pikiranku sendiri.

Barista itu memencet bel pesan, "Kring." 

Sekali lagi, "Kring."

Ia tampak kesal, aku hanya mematung, masih dengan pikiran-pikiranku yang ramai.

"Jangan melamun, Mbak! Kayak gini loh, kalau mau pesan, dipencet belnya," kini ia menegaskan dengan begitu verbal.

"Maaf, ya," ungkapku, dan bergegas mencari tempat duduk. Aku ingin pesananku segera dibungkus. Entah mengapa, malam ini ada perasaan sendu, tetapi sekaligus juga lapang. Mmmm, bukan, bukan malam ini saja lebih tepatnya, sudah seminggu sejak Desember datang, aku merasakan hal tersebut. Kombinasi yang aneh, sendu, tetapi juga lapang.

Kuambil pesananku. Segelas capucino es tanpa gula. Aku berjalan setengah lari menuju kos.

Kamar yang bersih menyambutku. Kuambil ponsel, mengetikkan, "Berkabar, ya, Ai, kalau sudah pulang."

Segera, sebuah jawaban datang, "Sudah otw, ke pondok."

Aku menangis sedu-sedan. Bahagia dan haru. Tuhan tidak membiarkan kesepian. Tuhan memberikan jiwaku terkoneksi dengan dia. Aku mulai menghayati banyak hal, kabar-kabar yang saling kami tukar setiap hari, berkala waktu, pagi, siang, sore, malam, tak pernah tanpa kabar.

Notifikasi WhatsApp berdering, Matul bercerita tentang impian-impian yang indah. Perasaan senduku bertempias. Aku menyukai semua obrolan tentang impian. Bagiku, impian adalah daya hidup.

Ponselku berdering panjang, panggilan telepon.

"Assalamualaikum," sapaku.

Di ujung sana, suara orang yang kucinta menjawab dengan tak bertenaga, "Waalaikumsalam, lagi apa?"

Suaranya semakin menyiratkan, ia sedang kelelahan. Aku ingin menangis dan mengatakan, 'terima kasih, ya, untuk tetap ditelepon, meskipun sudah sangat lelah.' Tapi, kupilih untuk tidak mengatakan itu, aku ingin tampak ceria saja, agar lelahnya memudar.

"Sudah salat?" tanyaku.

"Sudah, Ai."

Aku tertawa, dan mulai menaya-nanya hal-hal yang ia lewati seharian ini.

"Sampai besok, ya," katanya berpamitan hendak rehat.

"Terima kasih."

"Sayang selalu," dirapalkannya matra itu.

"Selamat istirahat." Telepon berakhir.

Aku meraih es capucino yang sudah kupindahkan ke tumbler tahan dingin. Menyeruputnya agak banyak, kesegaran dan kelegaan memompa jantungku.

Kuambil novel pemberiannya dan segera menyelami novel itu hingga tuntas. Aku menangis, entah karena ilusi yang timbul dari novel itu atau karena apa. 'Aku takut sendiri,' itu suara hatiku. 'Aku ingin terus ditemani. Aku ingin terus dekat-dekat. Aku takut jauh.' Aku segera mengoreksi perasaanku. Mengapa sedemikian ketakutan, padahal kenyataannya dia tak pernah jauh dariku, kenyataannya dia selalu mengisi pagi, siang, sore, dan malamku.

Aku semakin tenggelam dalam tangisan karena ketakutanku.

Kembali kuraih tumbler capucinoku. Satu kesadaranku menegaskan, ia tak pernah jauh dariku, kenyataannya begitu. Mungkin aku hanya takut dicintai, apakah aku layak dicintai? Namun, kenyataannya ia mencintaiku dengan begitu tulus dan luas.

Terima kasih, Ya Allah untuk rajutan-rajutan kisah ini.

Desember menuju minggu ke-2. Ada firasat ganjil yang mengetuk hatiku. Desember seperti sebuah penanda sebuah siklus akan berakhir, dan awal baru akan terbit. Namun, tahun ini begitu membahagiakan, aku takut hal-hal apa yang akan menemui ujungnya. 

Ada sebuah firasat, aku akan melalui sebuah perjalanan panjang yang baru. Namun, sebelum perjalanan itu tuju padaku, aku ingin mendatangi guru-guruku, sahabat-sahabatku, juga ruang-ruang yang telah membuatku berkembang, aku ingin melaksanakan menyampaikan ucapan terima kasih secara tatap muka, agar aku tuntas dalam memulai perjalanan baruku.

Azan subuh kumandang. Sekarang pukul 03:45. Hal yang kusukai tinggal di kos ini adalah suara mengaji dan adzan pada pukul tiga. Suara-suara suci itu seperti bantuan untuk membangunkan kesadaran yang mendengarnya. Sampai sini dulu ya, curhat-curhanya. Aku ingin menuju sumur, mengambil ember dan mengepel kamar, mandi dan salat subuh. Pagi ini hari Minggu, aku dapat tidur selepas subuh. Nanti bangun pukul 10, memasak nasi, sarapan, dan kalau ada kesempatan, aku ingin membeli bunga-bunga di pasar. Selepas dzuhur, kekasihku akan menjemputku, kami akan ke Gelanggang Eska untuk acara bedah buku Mbak Isma. Lalu, aku akan mengikuti kekasihku bekerja, hari terakhirnya di pementasan teater berbasis masyarakat. Ia bilang, "Boleh aja ikut, asal jangan rewel." Aku menjawabnya dengan tertawa, terima kasih untuk selalu dekat.



 

Komentar

Postingan Populer