2025 di Kafe Tengah Hutan
Adzan magrib kumandang disertai rintik hujan. Aku sedang duduk di depan tanaman-tanaman mungil yang ditata estetik dan diterangi cahaya dari pijar bohlam. Tentu saja ditemani pesan-pesan dari sahabatku, Matul. Kami sedang berkabar tentang keadaan rumah. Seekor kucing kecil sangat nakal, terus-menerus mengangguku, padahal aku sudah berkali-kali bilang, "Ingin sendiri, tidak ingin ditemani." Tapi ia tetap saja berjalan-jalan di atas mejaku, berkali aku bilang, "tidak sopan di atas meja." Dia sangat bandel, aku harus menurunkannya dari meja.
Hai, aku akan menulis apa sore jelang malam ini? Apa-apa yang aku bayangkan tentang yang kutulis di blog tempo hari lalu, tidak sesuai sama sekali dengan bayanganku.
Pagi itu aku berangkat bekerja, tepat pada hari ketika kekasihku akan pulang. Sesampai di kantor, aku lupa bahwa sekarang sedang libur. Aku bertelepon kepadanya. Ia mengajakku ke pondok dan sarapan soto bersama. Aku bahagia sekali, aku bisa melihatnya sekali lagi sebelum ia pulang. Padahal, sore hari kami sudah saling berpamitan, di tengah hujan badai ia menjemputku dari tempat kerja, kami makan mie ayam bersama, setelah itu ia melajukan motor menuju mesin atm dan memberi uang saku padaku banyak sekali, berlipat-lipat dari yang kuminta. Hujan deras terus mengguyur. Di depan mesin atm, ia mencium keningku penuh sayang. Aku menangis sepanjang perjalanan pulang. Terima kasih, Ya Tuhan untuk mengirimkan seseorang yang sebaik ini. Sebuah pamitan yang mengharukan.
Akan tetapi, Rabu pagi 25 Desember pamitan sore yang hujan itu menjadi perjumpaan manis yang berkelanjutan, pagi harinya kulihat lagi wajah orang yang kucinta. Saat sarapan soto bersama, kekasihku bilang, "Ambillah sate-satean yang kamu suka."
Sebenarnya aku diambang linglung, seperti disergap segala rasa bingung atas rencana kepulanganmu.
"Udah istirahat belum, ai?" tanyaku.
"Udah sih, tiga jam."
"Tapi kan akan perjalanan jauh."
"Iya, terus?"
"Kan butuh istirahat cukup agar energinya prima."
"Doain aja, ya, semoga lancar di jalan."
Aku mengangguk.
"Jangan sedih, ya, cepat balik ke Jogja kok."
"Tapi, aku ngrepotin terus, seperti pagi ini, yang harusnya kamu istirahat untuk prepare pulang, malah menjemputku ke kantor."
"Ya, gak apa-apalah! Emang kalau gak ngerepotin aku, trus mau ngerepotin siapa?"
"Terima kasih, ya, sayang."
"Mmmm."
Percakapan-percakapan sederhana terajut di meja kios soto ini. Aku ingin memantri kuat-kuat moment ini detik-detik sebelum kekasihku ke kampung halamannya.
Pukul 10.45 ia mengantarku ke kos. Aku bertitip salam untuk Ibu di Pati.
"Iya, baik-baik, ya, di sini. Kalau ada apa-apa di wa, ya," jawabnya.
Aku mengangguk.
Kekasihku melajukan motornya.
Aku pandangi ia. Sampai tubuhnya tak lagi mampu terjangkau oleh pandanganku.
Hari itu aku sedang gejala demam. Sesampai kos, aku tertidur lama.
Sebangun dari tidur, aku mendapati pesan dari kekasihku bahwa ia sudah dalam perjalanan ke Pati. Aku ingin terus dikabarin, entah mengapa aku banyak khawatir ketika orang yang kusayang melakukan perjalanan jauh.
Menjelang magrib kekasihku singgah di masjid, pada saat itulah dia berkabar bahwa perjalanannya kurang setengah jalan. Ia akan tiba di rumah sebelum pukul delapan. Aku merasa lega mendengar kabar tersebut.
Pukul sembilan malam, aku berkabar bahwa aku sudah sangat rindu. Tapi, jarak ini terasa indah. Dalam rindu, semua kebaikan kekasihku menjadi begitu terasa dan begitu tampak, baik dalam kesadaran maupun dalam rasa hatiku. Aku mengucapkan terima kasih, sudah diantar jemput setiap hari selama satu tahun ini, sudah selalu diberi sangu ketika gajiku habis menjelang akhir bulan, sudah selalu ditenangin saat aku dalam keadaan bingung, dan sudah disayang di tengah hujan pada sore kemarin.
Tanggal 25 berlalu.
Tanggal 26, hari-hari terasa lancar, aku berangkat dan pulang kerja sendirian.
Taggal 27, hal yang serupa.
Tanggal 28, Sabtu malam Minggu, aku berencana menyendiri sembari membereskan administrasi-administrasi, tetapi, dua kawanku mengajak pergi. Sebelumnya, aku memang sudah berkata pada Madam untuk pergi hari Sabtu, tetapi akhirnya aku pergi bersama Valen, sahabatku sepondok saat aliyah. Sebenarnya, dalam keadaan tubuh yang kurang vit, hal utama yang diinginkan hanyalah istirahat dengan cukup. Tapi, aku menikmati juga kebersamaanku dengan Valen. Valen sama sekali tidak berubah tentang yang satu ini sejak kami aliyah, ia selalu punya semangat yang tinggi dalam bereksplor dan mempergunakan waktu sebaik mungkin. Bersama Valen, aku tidak lagi fokus dengan demamku. Ketika kami sedang ngopi, Te Ning, berkabar besok pagi ia akan ke Jogja bersama Dek Una, Te Ning juga mentransferku banyak sekali.
Aku menatap susu jahe yang kupesan, menatap Valen, menatap temannya Valen, membaca pesan Te Ning. Ya, kupikir sisa Desemberku akan kuhabiskan dengan sangat minimalis dan seorang diri. Ternyata, Tuhan mengirimkan orang-orang yang sayang padaku untuk menemani akhir Desember ini.
Valen menginap di kosku. Pagi harinya, aku mengajak Valen berbelanja buah-buahan di sebuah supermarket, Valen sangat antusias, ia bilang udara pagi di hari libur terasa jauh lebih menyegarkan ketimbang udara pagi di hari kerja. Valen memborong banyak belanjaan di supermarket itu, melebihi aku yang notabenenya mengajaknya ke mari.
Seusai belanja, Valen berpamit pulang karena ia akan pergi ziarah bersama muridnya. Valen bekerja di sebuah kursus bahasa Inggris. Tadi malam, ia bercerita tipikal murid-muridnya yang unik-unik.
Setiba di kamar, aku berpuas-puas untuk istirahat, semoga badanku menjadi lebih ringan dan batukku cukup surut.
Pukul sebelas aku terbangun. Aku mengecek ponsel, dua buah pesan dari Te Ning, pukul sepuluh tadi mengabarkan bahwa telah di Solo. Pukul sebelas mengabarkan telah sampai Jogja. Kami berjumpa di Masjid Gede Mataram. Penuh rindu, Te Ning, Dek Una, dan aku saling berjabat tangan lantas berpelukan.
Di sore selepas gerimis, kami berjalan-jalan sekitar kawasan Masjid Gedhe hingga Pasar Kotagede, Dek Una membeli sepatu sandal, kami berfoto-foto di tempat-tempat yang estetik. Sebelum magrib, kami ke kos, bercakap-cakap, salat magrib berjemaah dan kami berjalan-jalan menyusuri Malioboro.
Te Ning memasan sate dan jeruk anget untuk kami bertiga. Te Ning juga memilihkan daster untuk kami bertiga, Te Ning bilang, "Aku sueneng gawe daster lho, Nduk. Penak pol buat bersih-bersih, dan buat salat."
Tiba-tiba hatiku merasa sangat haru, mendengar pernyataan Te Ning. Bersih-bersih dan salat sesuatu yang ia ingat bahkan di saat sedang plesir begini.
Te Ning memilihkan daster warna coklat lembut untukku, dan warna ungu muda dengan corak hijau untuk Dek Una.
Dek Una tertawa, "Ibuk, iki... aku dikongkon cosplay dadi embok-embok."
Kami tertawa bertiga.
Dek Una mengajak mengujungi rumah hantu di salah satu sudut Museum Horor Yogyakarta. Te Ning membelikan tiket untuk kami bertiga, kami memilih wahana bus hantu, sehingga kami hanya perlu duduk di dalam bus. Sepanjang perjalanan di bus itu, aku menutup mata terus. Aku sama sekali tak melihat hantu-hantu jadian itu. Setelah keluar dari bus, kami foto bertiga di depan pameran-pameran hantu. Kami pulang ke kos pukul 22.20. Kami beruntung, malam itu Malioboro tidak sedang padat.
Sesampai kos, kekasihku berkirim pesan ia membelikan tiket agar aku dapat mengajak Te Ning dan Dek Una ke Diorama Arsip Jogja. Ia juga mentrasnfer via ovo agar aku bisa membelikan oleh-oleh untu Te Ning.
"Ya, Allah, sayang, kan aku punya banyak uang yang bisa buat beli oleh-oleh, kenapa ditransfer?" balasku.
"Ya, kan aku yang beli oleh-oleh untuk Te Ning, sedikit gak apa-apa ya, ai."
"Makasih, sayang."
Te Ning berkata, agar besok aku tetap berangkat kerja, tidak mengapa ia jalan berdua dengan Dek Una. Tentu, aku mengiya, sebab akan menjadi waktu yang indah untuk quality time dan putrinya yang menginjak dewasa ini.
Senin harinya berjalan dengan cepat. Aku bekerja seperti biasa. Te Ning berkabar bahwa ia akan pulang malam. Pukul setengah sebelas Te Ning dan Dek Una sampai kos. Malam itu, sesuatu yang ganjil mulai terjadi. Dek Una tiba-tiba demam tinggi, kupikir ia benar-benar kelelahan setelah seharian berplesiran. Ternyata, di sepertiga malam, Te Ning bercerita bahwa putrinya tidaklah demam seperti sakit biasa. Te Ning memberi keterangan terkait beberapa gejalanya. Aku belum sungguh-sungguh mengerti, sampai akhirnya Dek Una meminta ibunya membacakan selawat di telinganya. Dengan penuh sayang, ketabahan, dan harapan agar putrinya sembuh, Te Ning rapalkan selawat-selawat kepada Sang Nabi saw.
Lantas aku melihat gigil di tubuh Dek Una surut, suhu panasnya pun juga surut.
Ketika Dek Una beristirahat, Te Ning berbincang kepadaku. Ia bercerita tentang proses-proses menikah keponakan-keponakannya. Te Ning tidak memerintah dan tidak melarang apapun padaku. Ia hanya bercerita menyampaikan apa yang ia lihat dan rasakan. Cerita-cerita Te Ning sungguh sangat membantuku mendapatkan bayangan kelak prosesi nikahku akan seperti apa. Aku sangat berterima kasih dengan cerita-cerita itu. Tetapi, banyak hal berkemelut di kepalaku, ada ambisi-ambisiku yang ingin kutuju sebelum menikah, juga ada ketakutan-ketakutanku tentang pernikahan. Aku tidak menceritakan semua itu kepada Te Ning. Aku diam menyimak cerita-cerita Te Ning.
Di ujung cerita itu, Te Ning berkata, "Sing penting diresmikan dulu, Nduk!"
Kalimat itu begitu halus dan ambigu. Tentu saja, tanteku ini hatinya memang sangat halus, sehingga kata-kata yang keluarpun sehalus itu. Ia tidak menanya kapan aku menikah, ia tidak menggunakan diksi menikah. Ia tidak memaksa apapun kepadaku.
Tetapi, setelah satu kalimat itu diucapkan oleh tanteku yang begitu baik ini, aku jadi merefleksikan banyak hal. Ambisiku tentang hal-hal yang ingin kuperjuangkan sebelum menikah perlahan mendapatkan sarana mediasi. Ketakutanku tentang pernikahan perlahan mendapat jawaban-jawaban agar hempas.
Kata "diresmikan dulu" memberi arti yang banyak bagi penangkapan jiwaku. Kata penting dan diresmikan memang kata yang saling terkait, karena ini kejadian penting maka perlulah diresmikan, karena ini diresmikan maka menjadilah peristiwa penting. Resmi secara agama, hukum, dan sosial. Tentu, besar sekali cinta dan kasih yang diberikan padaku, aku ingin semua usaha-usaha pacarku dalam mengasihiku menjadi nilai ibadah, dan secara hukum maupun sosial, aku menjadi bisa lebih ekpresif menyatakan bahwa laki-laki dengan nama Seorang Hamba Berjiwa Pengasih itulah teman hidupku.
Ditambah diksi "dulu" diakhir kata "diresmikan" kata itu membuatku dapat bermediasi dengan ambisi-ambisiku. Kata "dulu" menyatakan waktu, menyatakan proses, menyatakan bahwa mimpi-mimpiku bisa dikompromikan seiring proses peresmian yang penting itu.
Ah, Te Ning, tanteku yang sangat baik, aku menjadi begitu sendu.
Te Ning salat tahajud lama hingga subuh datang.
Demam Dek Una belum surut. Kami panik. Kami menunggu pukul tujuh untuk pergi ke RS Hidayatullah. Sesampai di rumah sakit, demam Dek Una surut walaupun belum sempat diperiksa dokter. Dek Una tampak enggan ke kosku. Enggan melewati jalan kuno menuju kosku. Tapi, melihat putrinya yang masih lemas, Tante Ning mengajak kembali kos.
Benar saja, ketika sampai kos, Dek Una menjadi demam tinggi kembali. Beberapa saat Dek Una berupaya mengumpulkan energi dan kami bersiap pergi ke Diorama Arsip Yogyakarta.
Setiba di gedung Diorama, demam Dek Una turun, ia telah ceria, energinya kembali terisi. Te Ning dan Dek Una menikmati diorama jogja dengan bahagia. Aku turut bahagia dapat mengajaknya ke mari.
Sayangnya, sebelum menuju perjalanan ke Diorama terjadi sebuah drama. Aku lupa menaruh kunci motor temanku yang kupinjam untuk mengantar Dek Una melewati gang sempit jalanan kosku. Dalam rangka mencari kunci motor itu, selepas pameran diorama, aku berpamitan kembali ke kos duluan, agar Te Ning dan Dek Una menikmati semilir angin di Kawasan Perpustakaan Grahatama.
Di parkiran HS Silver tempat aku menaruh motor kawanku, kunci itu ketemu begitu saja. Aku sangat bersyukur. Aku ke pasar untuk membeli dimsum mentai dan es teh untuk Umi yang telah meminjamkan motor. Beristirahat sejenak di kos, sembari membersihkan kamar agar Te Ning dan Dek Una nanti dapat beristirahat dengan nyaman. Te Ning berkabar bahwa aku tidak perlu menjemput ke perpustakaan, ia akan ke kosku bersama putrinya.
Akan tetapi, sesampai kos demam Dek Una kembali parah. Aku begitu iba melihatnya kesakitan. Tapi, melihat Te Ning yang tenang, tegar, optimis, dan penuh harap akan kesembuhan putrinya, hatiku menjadi lebih kuat.
Kereta Te Ning berangkat pukul setengah lima sore. Begitu adzan asar kumandang, segeralah ditunaikan sembahyang, tanteku merapalkan doa sangat lama untuk kesembuhan putrinya.
Tangan yang tengadah bersama doa dibalurkan ke seluruh tubuh putrinya, Te Ning terus merapal doa sambil memijat Dek Una dengan minyak angin. Panas Dek Una kembali surut, pusingnya mereda. Te Ning dan Dek Una berpamit pulang. Aku mengantarkan hingga depan gang.
Selepas magrib, Te Ning berkabar bahwa telah sampai di Madiun. Aku mengucap banyak terima kasih.
Hari terakhir tahun 2024, kekasihku meneleponku, walau hanya sebentar, tetapi sangat bermakna. Aku menghabiskan malam dengan tidur. Aku bahagia melwatkan keramaian dan kembang api.
Ketika pagi datang, sahabatku, Matul, berkirim pesan, "Selamat hari pertama tahun 2025, ya, beb!"
Pesan itu memberikan banyak semangat kepadaku. Aku segera membuat teh anget dan bercakap-cakap dengan Matul via wa. Dari percakapan itu, Matul bercerita bahwa ketika ia di Jogja kemarin dan menemui teman sekos suaminya yang bernama Mas Pinurba, ternyata Mas Pinurba juga mengalami hal yang serupa dengan yang dialami Dek Una. "Kotagede itu sakral kata Mas Pinurba, Beb. Dulu dia juga begitu, tapi setelah berziarah ke makam raja-raja jadi enggak begitu lagi."
Cerita Matul membuatku lebih tenang dengan keadaan kamarku, juga dengan keadaan adik keponakanku. Om Khudori, ayahnya Dek Una memang kerap menyembuhkan orang sakit, barangkali itulah yang membuat Dek Una cukup sensitif.
Setelah adzan dzuhur, aku mandi. Ucapan selamat hari pertama tahun 2025 dari sahabatku menjelma energi. Aku menuju kafe di tengah hutan ini. Aku bahagia melihat space yang luas dan hijau-hijauan. Aku menjelajahi e-market untuk membeli bunga sebagai ucapan ulang tahun untuk kekasihku, tetapi nyaris semua tutup. Aku meninggalkan laptop di kafe ini. Memesan ojek dan menuju toko bunga di dekat UIN, tetapi ternyata tutup. Aku kembali ke kafe.
Hujan turun. Senja hari di sini indah. Kemarin Te Ning, bilang, hendaklah aku melihat hijau-hijau dan air di tempat yang alami agar minusku dapat turun karena hal itu telah dibuktikan sendiri oleh Te Ning dan berhasil ampuh.
Aku ingin membuat video estetik untuk hari ulang tahun kekasihku, tetapi aku tak cakap dengan aplikasi-aplikasi video. Hari telah menuju petang, maka kukirim ucapan ulang tahun seadanya untuk kekasihku. Kan, ucapan terbaik adalah doa. Selamat berulang tahun, ya, Cahayaku. Biar aku terus menjadi semesta kecil yang kamu sayangi melalui binar hangat juga pendar terangmu.
Tak lama, sebuah balasan mendarat. Ia menerima ucapan terima kasihku, disertai emoticon sayang dan cinta. Kekasihku bercerita, ibundanya sedang memasak mangut ikan P, untuk teman-teman di pondok Pati dalam rangka selamatan hari lahir kedua putra tercintanya.
Aduh, sayang, mendengar ceritamu, tentu saja aku berharap semoga besok aku bisa merawat tradisi baik dari ibunda, mensyukuri hari lahir keluarga kecilku dengan selamatan dan doa.
Aku sudah lega telah mengucapkan doa di hari spesialmu meskipun tidak seromantis keinginanku memberi ucapan selamat ulang tahun dengan cara yang kubayangkan tadi.
Setelah kelegaan menghapiriku, aku mulai mengetik ini semua. Semoga bisa menjadi arsipku di penghujung tahun 2024. Sudah dulu, ya, satu tugasku yang berkaitan dengan keheningan hari ini telah tertunaikan. Valen berkabar akan tidur kosku karena ia sedang ada tamu dari Australi. Terima kasih untuk hari-hari penuh berkah. Terima kasih, untuk ruang tengah hutan yang sunyi ini. Kututup tulisan penghujung 2024 ini dengan alhamdulillahirobilalamin. Segala puji hanyalah milik-Mu, Wahai Tuhanku Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Komentar
Posting Komentar