Renungan-Renungan Kecil
Hai :)
Sekarang Jumat malam. Hari ini ada yang terasa lega. Pertama, aku bisa mengomunikasikan kendala-kendalaku dalam pekerjaan tadi. Dan setelah dikomunikasikan, tidaklah semenyeramkan apa yang ada dibayangan. Teman-teman dalam ruang redaksi berbaik hati membantu kebingungan-kebingunganku, terutama Mbak Yosi, primredku.
Ini adalah dua bulan pertamaku menjadi editor di sebuah penerbitan buku-buku penelitian. Harus mengakui bahwa dalam hal teknis perihal alur pengeditan yang sesuai ketetapan perusahaan, aku masih cukup tergagap. Semula, itu membuatku merasa tertekan karena takut dengan kekeliruan-kekeliruanku. Tapi, pagi ini aku mulai melihat bahwa kekeliruan-kekeliruan adalah sesuatu yang berharga dan kadang memang harus dijumpai untuk menemukan pembelajaran. Aku belajar mengatasi rasa takutku akan kekeliruan, jika tidak berani keliru, aku tidak berani belajar hal-hal yang baru.
Aku bersyukur mendapatkan lingkungan kerja yang baik, terima kasih Ya Allah. Tahun ini, usiaku dua puluh delapan. Usia yang terbilang tidak muda. Apa yang bisa kupertanggungjawabkan di usia yang mendekati kepala tiga?
Hal yang menjadi spesial di usia dua puluh delapan tahun ini adalah bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, Ya Allah semoga bertambahnya umurku menjadi pembuka perbaikanku dalam ranah batin maupun materil. Aku ingin menjaga ibadah-ibadahku, serta memohon diberikan kecukupan materil untuk membantu melaksanakan ibadah-ibadahku.
Menjelang dua puluh delapan ini, aku telah bertemu banyak orang dalam berbagai ruang. Semua ruang dan zaman saling menyempurnakan, tidak ada yang memperlambat satu sama lain, aku menerima segala takdirku, kekeliruan-kekeliruanku, eksplorasiku, juga segala berkah dan karunia yang Tuhan titipkan. Setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing, tiada yang perlu diratapi sebab Tuhan masih memberikan kesempatan-kesempatan untukku melakukan kebaikan. Aku percaya atas segala jalan rizki dan jalan kasih sayang-Mu, Wahai Robb ku. Untuk itu, bimbinglah aku dalam ibadah-ibadah kepada-Mu sebagai wujud syukur dan percayaku.
Kini, Tuhan menganugerahiku karir yang cocok, setelah tiga tahun berjarak dari dunia literasi, entah bagaimana, atas kuasa-Nya, aku didekatkan lagi dengan dunia literasi. Memulai karir dengan sungguh-sungguh di usia dua puluh delapan tahun, mungkin terbilang terlambat. Tapi, ini memang yang terbaik dari prosesku.
Tuhan menganugerahi kasih sayang, salah satunya melalui takdir atau ketetapan yang kita jalani. Dan jalan takdir yang saat ini kuterima, salah satunya adalah perihal pekerjaan yang kini kujalani. Setelah berbagai cerita dan nasib yang kulalui, selain cinta, pekerjaan adalah juga hal yang harus kuperjuangkan, karena melalui itulah aku mendapatkan pintu untuk mengupayakan kemandirianku. Kemandirian adalah hal yang sangar penting untukku tanamkan dan kuperjuangkan. Sebab, hanya dengan kemandirian seseorang akan menemukan dirinya yang otentik, yang tidak berpangku kepada manusia lain, lebih dari itu, kemandirian adalah tugas dan kewajiban setiap individu. Keharusan untuk mandiri membuatku tidak merasa papa karena jauh dari keluarga, karena aku memiliki nyaris keutuhanku dalam kemandirian. Ya, tentu saja nyaris, karena kita tidak mungkin sepenuhnya utuh, sebab orang-orang yang menyayangi kita adalah bagian dari keutuhan itu.
Berbicara perihal kemandirian dan keutuhan, Tuhan telah memberikan keduanya kepadaku. Kekasih yang menyayangiku dengan tulus, dan pekerjaan yang ingsyaAllah ke depan mampu memenuhi kebutuhan penghidupan dengan stabil. Antara cinta dan kemandirian, semuanya mestilah diperjuangkan dengan seimbang. Cinta tanpa kemandirian, akan merepotkan orang yang mencintai kita. Kemandirian tanpa cinta, membuarku merasa rapuh dan sepi. Kemandirian akan membimbingku secara materi dan cinta akan membimbingku secara rohani. Semoga antara kemandirian dan cinta, sama-sama bisa kuperjuangkan, sama-sama bisa kami berdua kompromikan.
Sekarang aku memiliki tiga naskah yang belum kutindaklanjuti, naskah pertama tentang perjalanan diriku, naskah kedua tentang cerita pencarian sahabatku seorang pelukis, dan naskah ketiga, bianglala kehidupan, cerita personalku tentang quarter life crisis. Satu lagi naskah puisi, tapi untuk naskah ini, aku ingin membaca banyak buku puisi dulu untuk kelak kalau memungkinkan, aku ingin mengolah lagi.
Mmm kekasihku mengutusku untuk ikut perlombaan novel dengan tema mistik, tapi malam ini aku memutuskan untuk tidak mengerjakannya, karena aku takut. Tidak apa-apakan. Semoga engkau bisa memaklumi ya.
Sekarang, aku ingin membaca untuk memperbaiki struktur cerita dan struktur bahasaku, di antara ketiga naskah itu, harus ada satu yang segera kuperbaiki, lantas aku akan sowan kepada Yai Aguk. dan sembari menunggu naskahku baik serta waktu sowan itu, aku ingin puasa senin kamis 3-4 bulan serta rutin mengaji setiap malam, kecuali jika sedang halangan.
Sekarang pukul satu lewat delapan, aku ingin menutup tulisanku ini dengan ucapan terima kasih, kepada Sang Pencipta atas nasib baik dan kasih sayang yang diberikan-Nya untukku. Juga terima kasih untuk pujaan hatiku yang sudah membulatkan tekad untuk menerima baik dan burukku. Kita sama-sama selalu ya....
Komentar
Posting Komentar