Bersambut
Alhamdulillahi robbil alamin.....
Tiada pembuka yang lebih cocok untuk tulisan ini selain ucapan tahmid. Ya Allah, terima kasih untuk semua makna dan cerita dalam segala lika-liku hidupku. Bahwa untuk sampai di titik ini, tiada lain semua karena kekuasaan-Mu, tiada lain semua karena Maha Penyayang dalam Sifat-Mu. Sebagaimana sebelum-sebelumnya Engkau telah banyak mengeluarkanku dari berbagai kesulitan, maka tuntunlah pula hari-hariku ke depan dengan kemudahan yang Engkau kehendaki.
Sejak pagi ini, akan libur tiga hari. Tapi, aku memiliki tugas mengedit buku manajemen sekitar 200 halaman. Semoga dapat terselesaikan dalam sehari. Sebelum memiliki libur tiga hari, kemarin sore kamu tidak langsung mengantarkan ke kos. Kita ngopi di Sorowajan dekat kosku dulu. Kos yang kutinggali sebelum berangkat ke Jakarta.
Mmmm cepat sekali kehidupan ini berubah. Beberapa tahun lalu, kedai kopi ini masih area persawahan, sekarang telah menjadi kompleks perkafean. Di antara beberapa kedai kopi yang ada, kami memilih singgah di kedai yang terlihat paling rimbun, karena pepohonan bagiku selalu punya daya magis dalam memberi keteduhan.
Kamu meminta izin ditemani mengerjakan proyek website dan proyek untuk persiapan festival buku. Itu artinya aku tidak boleh manja, karena biasanya kamu akan mengasuhku dengan berbagai cerita yang selalu baru. Sembari kamu mengerjakan desain website dan menyusun undangan untuk para penulis, aku membaca novel karya Putu Wijaya. Tak lama dari itu, senja benam digantikan taram. Nyamuk-nyamuk makin rapat beterbangan di antara kita. Namun, kita tak cukup hirau dengan itu. Aku hanya merasa damai di dekat-mu.
Pukul sepuluh, aku tiba di kos. Kamu berkirim pesan, diawali dengan ucapan maaf lantas bertanya, apakah sebentar lagi aku ulang tahun? Pertanyaan itu membuatku tergelitik, tak usahlah peduli kapan tanggal lahirku, sebab bersamamu, aku selalu merasa dirayakan setiap hari. Bagaimana setiap pagi kita selalu bertelepon, bahkan di saat kesadaran kita belum sungguh-sungguh terkumpul. Kamu memberi kabar, bahwa akan sembahyang, mempersiapkan diri dan berangkat mengantarku. Tentu, jika diresapi dan dipikirkan, aku sering menangis dengan keadaan ini. Perihal setiap hari kamu menghabiskan waktu dua jam beriring dengan teriknya di jalan hanya untuk mengantar dan menjemputku.
Dengan pola baru dalam relasi kita ini, aku merasa cukup kaget. Dulu aku membayangkan, bagaimana teman-temanku yang sering diantar-jemput oleh kekasihnya, pasti menyenangkan. Sebab sebelum ini, kita hanya bertemu seminggu sekali dalam dua hingga empat jam. Kini, kita bertemu setiap hari dan ada pola-pola yang berubah dalam relasi kita. Tapi, bukankah perubahan itu memang sebuah keniscayaan dalam segala yang hidup dan bergerak, dalam aliran waktu yang terus menuju muara-Nya.
Apabila suatu kesempatan nanti aku bertanya, "Bagaimana perasaan kamu setiap hari kita bertemu?" Aku tahu persis, jawaban apa yang akan muncul. "Tidak usah ditanyakan, aku tidak mau memikirkan," jawabmu. Lalu, diam-diam aku melihat gurat wajah beserta sorot mata sendumu. Segala bahasa yang menyatakan betapa kamu ingin merawatku dengan segenap tanggung jawab yang terus berdegup dan terus jaga.
Semakin sering kita bertemu, semakin banyak tabir yang terbuka. Sebagaimana setiap manusia yang terbentuk dari banyak lapis, kita saling mengenal lapis demi lapis dari kepribadian kita. Dan pastinya semua pengenalan ini menjadi sangat indah dengan kesaling penerimaan. Sebelumnya, setiap jumpa, kamu memberiku puisi dan bunga-bunga. Tapi, sekarang lebih banyak kamu memberiku kritikan yang pedas, hehe. Namun, apa pun itu, di titik ini dan seterusnya aku sangat berterima kasih sebab diizinkan untuk mengenalmu secara keseluruhan.
Meski semuanya nyaris tidak mudah, tapi aku ingin selalu berdoa untuk kebersamaan kita. Semoga kita saling menerima secara keseluruhan. Semoga kebersamaan kita adalah kebersamaan dalam kebaikan dan teriringi oleh berkah.
Aku seperti yakin saja, bahwa setelah ini kamu akan mendapatkan banyak proyek secara berturut-turut dan mungkin itu pula yang akan membentuk banyak hal perihal preferensi dan pergaulanmu. Di tengah banyak kesibukanmu, aku hanya ingin kamu selalu sehat, tetap mendapat ruang merenung untuk mendekap setiap makna, serta kita selalu bersama-sama.
Dan sembari itu, aku ingin istiqomah dulu dengan jalanku yang ini. Aku merasa ini adalah jalur yang aman. Sudah cukup eksplorasiku selama ini. Aku ingin aman dan seimbang terlebih dahulu. Biar pelan, tapi aku yakin akan sampai juga pada titik seimbang. Dan jika telah seimbang, akan lebih mudah pintu-pintu terbuka.
Di tahun 2024 ini, aku ingin seimbang secara energi, materi, juga spiritual. Cukup itu dulu ya... Tidak ingin apa-apa, semoga ada waktu dua minggu sekali untuk ke pondok. Aku ingin merawat persaudaraanku dengan Baitulkilmah, karena di sana aku merasa berjumpa dengan seorang guru, seorang ayah dan ibu, juga banyak saudara.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutuliskan di sini, sebagai upaya merawat ingatan. Tapi, biar kusimpan dalam diriku dulu. Sepertinya belum siap tercurahkan hari ini. Aku hendak mengedit naskah dulu ya. Sekarang sudah pukul setengah empat sore. Terima kasih Ya Tuhan-ku.
Komentar
Posting Komentar